Welcome to Endah Aryfah Blog

Selamat datang di Endah Aryfah Blog, disini adalah tempat untuk sedikit berbagi informasi tentang materi-materi perkuliahan terutama materi yang terkait dengan jurusan saya yaitu Bimbingan dan Konseling. Selamat membaca :) .

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang merupakan fakultas pertama dan tertua yang ada di Universitas ini.

Jurusan-Jurusan di Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES

Fakultas ilmu pendidikan terdiri dari enam jurusan yaitu jurusan Teknologi Pendidikan, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,Jurusan Psikologi, dan Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini.

Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNNES

Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki , sehingga individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal serta mandiri.

Mahasiswa FIP UNNES

Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri semarang adalah calon tenaga pendidik berkualitas di masa depan yang diharapkan mampu bersaing di dunia pendidikan untuk memajukan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik.

Minggu, 04 Januari 2015

Kedudukan dan Tujuan Tes Dalam Konseling

Kedudukan Dan Tujuan Tes Dalam Konseling
A.    Kedudukan Tes Dalam Konseling
   Tes dalam konseling menekankan itu perlu karena melalui tes diperoleh berbagai informasi yang dapat membantu klien untuk mengambil keputusan secara lebih realistis. Jenis-jenis tes yang dapat digunakan untuk tujuan konseling meliputi tes inteligensi umum, bakat, minat, hasil belajar dan beberapa inventori kepribadian. Kegunaan tes dalam konseling terutama dapat dilihat bahwa hasil tes mampu menyediakan tentang traits individu sebagai bahan tabahan yang dapat dijadikan sumber pengambilan keputusannya.
   Namun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan tes dalam konseling yaitu:
1.      Klien hendaknya terlibat dalam proses pemilihan tes, dimana mereka seharusnya diberikan kesempatan untuk menentukan jenis-jenis tes yang mereka inginkan.
2.      Perlunya konselor mengeksplorasi alasan klien menginginkan tes dan pengalaman masa lalu klien dengan tes.
3.      Perlunya klin memperoleh insight bahwa tes hanyalah alat yang tidak sempurna, dalam arti tes bukanlah jawaban terbaik atas persoalan melainkan hanya informasi tambahan.
4.      Konselor seharusnya menjelaskan tujuan tes dan menunjukkan keterbatasannya.
5.      Hasil tes yang dikomunikasikan kepada klien tidak sekedar skor tetapi makna dibalik skor itu harus dieksplorasi dan ditafsirkan sementara konselor harusnya menahan diri dalam member penilaian dan membiarkan klien mengambil simpulan atas makna hasil tesnya.

B.     Tujuan Penggunaan Tes dalam Konseling
    Secara umum penggunaan tes dapat digolongkan ke dalam dua klasifikasi besar yaitu untuk tujuan bukan untuk konseling dan tujuan untuk konseling.
    Yang termasuk ke dalam tujuan bukan untuk konseling adalah:
1.      Seleksi calon masuk lembaga
2.      Penempatan individu dalam lembaga
3.      Adaptasi latihan lembaga untuk memenuhi kebutuhan dan ciri-ciri individu tertentu
4.      Pengembangan dan revisi latihan lembaga untuk memenuhi kebutuhan cirri-ciri siswa atau pekerja pada umumnya.
Sedangkan penggunaan tes dalam konseling yang termasuk bukan informasi ada beberapa hal:
1.      Merangsang minat terhadap bidang-bidang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan
    Hasil pengukuran atribut kepribadian individu melalui tes memiliki kontribusi dalam membangkitkan siswa terhadap bidang-bidang pendidikan dan vokasional. Semula para siswa kurang menyadari namun setelah merek memperoleh gambaran berupa profil minat-minat dan bakatnya yang tak diketahui sebelumnya dan ternyata cukup menonjol, para siswa bisa termotivasi dan berminat mengembangkan kea rah bidang-bidang yang sebelumnya tidak masuk dalam pertimbangan.
2.      Meletakkan landasan kerja bagi konseling berikutnya
   Dalam melaksanakan pelayanannya, konselor sekolah sering melakukan kegiatan wawancara yang di dalamnya berisi pembahasan tentang karier dan masa depan. Dengan menfokuskan kepada pengembangan konsep diri, pembahasan tentang minat, bakat, dan sifat-sifat kepribadian dapat dikaikan dengan penyesuaian terhadap pendidikan dan karier di masa depan. Hal itu akan semakin menarik dan menjadikan siswa terlibat dengan penggunaan tes psikologis. Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan besar mereka merasakan kebutuhan konseling.
3.      Belajar pengalaman dalam pengambilan keputusan.
   Penggunaan tes lebih besar penekanannya untuk keperluan belajar dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan berlangsung efektif apabila didukung oleh tersedianya bahan informasi. Tes memungknkan tersedianya berbagai informasi tentang atribut kepribadian seperti: intelegensi umum, bakat, minat yang kevalidannya tidak diragukan.
4.      Mempermudah berlangsungnya pembicaraan
   Sebagian klien mengalami kesulitan untuk mulai bicara, terutama apabila mereka tercekam oleh perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran yang lama tertekan. Untuk itu disarankan untuk menggunakan tes-tes semacam melengkapi kalimat atau thematic Apperception test. Respon atau tanggapan klien terhadap rangsangan tes dapat digunakan oleh konselor sebagai titik awal guna mempermudah komunikasi dalam wawancara.
5.      Kepentingan riset dalam konseling
    Meskipun riset dalam arti langsung bukan merupakan fungsi konseling, riset dapat merupakan tanggung jawab konselor dan riset kaitan dengan layanan yang ia berikan. Sebagai contoh, dalam evaluasi konseling pendekatan riset banyak dipakai dan sudah tentu sebagai alat ukur, tes banyak digunakan.
   Sedangakan penggunaan tes dalam konseling yang termasuk untuk tujuan informasi meliputi:
a.       Informasi diagnostic prakonseling
   Penggunaan tes dalam tujuan ini adalah dalam kaitan upaya konselor memperoleh informasi berupa traits atau atribusi kepribadian klien yang dapat dijadikan bahan diagnosis (perkiraan penyebab) masalah klien. Dengan adanya hasil tes berupa skor bakat, minat atau karakteristik kepribadian, konselor mampu menduga tentang kemungkinan faktor penyebab kesulitan kliennya.
b.      Informasi untuk mengarahkan proses konseling berikutnya
   Hasil tes dapat dijadikan dasar pembinaan konselor terhadap kliennya. Hasil-hasil yang memperlihatkan keunggulan diri klien dapat dijadikan penguatan yang pada gilirannya akan membentuk konsep diri positif. Sedangkan hasil tes yang memperlihatkan kelemahan klien dijadikan dasar sebagai bahan instropeksi klien. Dengan demikian informasi hasil tes dapat digunakan untuk mengarahkan proses konseling untuk maksud pengembangan diri klien.
c.       Informasi berkaitan dengan keputusan klien pasca konsling
    Ciri umum konseling selalu berkaitan dengan keputusan dan keputusan hakikatnya adalah seperangkat perencanaan. Dalam proses konseling tidak hanya melihatkan aspek rasional kognitif saja melainkan juga perasaan klien yang akan mengambil keputusan. Tujuan konseling lazimnya membantu membuat keputusan dan rencana masa depan serta memilih diantara alternative cara bertindak dalam realitas. Dalam hal ini tes berfungsi membantu dalam proses merencanakan dan memilih dengan member klien informasi tambahan mengenai diri klien dalam hubungan dengan mengenai pendidikan atau jabatan.


Ada tiga dimensi keputusan pasca konseling, yakni: 1. Tingkat afeksi yang melekat pada proses memperoleh informasi itu berbeda-beda di antara individu yang mencari informasi, 2. Tingkat kedangkalan dari kebutuhan informasi yang dinyatakan klien, 3. Tingkat realitisnya alternative yang dipertimbangkan dan permintaan informasi. Dengan mempertimbangkan kerja dimensi ini maka sangat dituntut keterandalan kompetensi konselor untuk mengintegrasikan hasil tes ke dalam pendekatan konseling.

Tujuan dan Prinsip Bimbingan dan Konseling Karir

Tujuan Dan Prinsip Bimbingan dan Konseling Karir di sekolah
1.Tujuan Bimbingan dan Konseling Karir di Sekolah
Secara garis besar, bimbingan dan konseling karir di sekolah memiliki dua tujuan pokok, yaitu: Membantu siswa dalam memahami dirinya dan dunia kerja secara khusus yang menjadi sasaran Bimbingan Konseling tentang karier di sekolah diantaranya
  1. Para siswa dapat memahami dan menilai dirinya, terutama yang berkaitan dengan segi potensi yang ada dalam dirinya, mengenai kemampuan, minat, bakat, sikap dan cita-citanya.
  2. Menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada dalam dirinya, serta ada dalam masyarakat.
  3. Mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi yang ada dalam dirinya, mengetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan bagi suatu bagian tertentu, memahami hubungan usaha dirinya yang sekarang dengan masa depannya.
  4. Menemukan hambatan-hambatan yang mungkin timbul yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan, serta mencari jalan untuk dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
  5. Para siswa dapat merencanakan masa depannya serta menemukan karier dan kehidupannya yang serasi, yang sesuai.
Membantu peserta didik untuk menemukan dirinya sendiri dan dunia kerjanya, sehingga dapat memilih, merencanakan, memutuskan dan memecahkan masalah
Menurut W.S. Winkel, tujuan bimbingan ada 2 yaitu:
  • Tujuan sementara dari bimbingan, agar orang bersikap dan bertindak sendiri dalam situasi hidupnya sekarang.
  • Tujuan akhir dari bimbingan adalah supaya orang mampu mengatur kehidupan sendiri. Mempunyai pandangan sendiri dan menanggung sendiri konsekuensi atau resiko dari tindakan-tindakan yang diambil.
Sedangkan secara umum bimbingan konseling tentang karir diantaranya:
  • Mengerti dirinya dan lingkungan, mengerti diri meliputi pengenalan kemampuan dan nilai-nilai hidup yang dimiliki untuk perkembangan dirinya. Mengerti lingkungan meliputi pengenalan baik lingkungan fisik, sosial, budaya, informasi, lingkungan ( informasi, pendidikan, karier dan sosial pribadi).
  • Mampu memilih, memutuskan, merencanakan hidupnya dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan sosial pribadi.
  • Mengembangkan kemampuannya dan kesanggupannya secara maksimal.
  • Memecahkan masalah pribadi secara bijaksana.
  • Memahami dan mengarahkan dirinya dalam bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan lingkungan.
Dapat disimpulkan bahwa, tujuan bimbingan konseling karir di sekolah untuk mengarahkan dan memberikan referensi bagi siswa tentang dunia kerja, mensinkronisasikan dengan kemampuan yang dimilikinya, serta dapat menyesuaikan dengan minat dan bakatnya
2.Prinsip Bimbingan dan Konseling Karir di Sekolah
  1. Pemilihan karir lebih merupakan suatu proses dari suatu peristiwa.
  2. Pemilihan dan penyesuaian karir dimulai dengan pengetahuan tentang diri. Individu harus memahami potensi ,bakat, minat dan kemampuanya.
  3. Bimbingan karir haruslah merupakan suatu pemahaman diri.
  4. Bimbingan karir membantu pemahaman dunia kerja dan pekerjaan dalam masyarakat.
  5. Dalam bimbingan karir termasuk pula pemberian informasi, keterangan mengenai latihan atau pendidikan yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, berbagai keterampilan dan pola tingkah laku yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
  6. Bimbingan karir merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh para konselor dalam memberikan rangsangan dan bantuan perencanaan karir, membuat keputusan dan penyesuaian karir.
     Prinsip-prinsip bimbingan konseling karir disekolah adalah :
  1. Seluruh siswa disekolah hendaknya mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam pencapaian karirnya secara tepat.
  2. Program bimbingan karir hendaknya memiliki tujuan untuk merangsang perkembangan pendidikan siswa.
  3. Setiap siswa hendaknya memehami bahwa karir itu adalah sebagai suatu jalan hidup dan pendidikan adalah sebagai persiapan untuk hidup.
  4. Siswa hendaknya dibantu dalam mengembangkan pemahaman yang cukup memadai terhadap diri sendiri dan kaitanya dengan perkembangan social pribadi dan perencanaan pendidikan karir.
  5. Siswa perlu diberikan pemahaman tentang dimana dan mengapa mereka berada dalam suatu alur pendidikanya.
  6. Siswa dalam keseluruhan hendaknya dibantu untuk memperoleh pemahaman tentang hubungan antara pendidikanya dan karir.
  7. Setiap siswa pada setiap tahap program pendidikanya hendaknya memiliki pengalaman-pengalaman yang berorientasi pada karir secara berarti dan realistic.
  8. Setiap siswa hendaknya memilih kesempatan untuk menguji konsep, berbagai ketrampilan dan perananya guna mengembangkan nilai-nilai dan norma yang memiliki aplikasi bagi karir dimasa depanya.
  9. Program bimbingan karir disekolah hendaknya diintegrasikan secara fungsional dengan program pendidikan pada umumnya dan program bimbingan konseling pada khususnya.
  10. Program bimbingan karir disekolah hendaknya berpusat dikelas dengan koordinasi oleh pembimbing disertai partisipasi orang tua dan kontribusi masyarakat.
Daftar Pustaka
http://aniendriani.blogspot.com/2011/03/prinsip-prinsip-bimbingan-karir.html

Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Landasan Pendidikan Inklusi Indonesia
Penerapan pendidikan Inklusi memiliki beberapa landasan sebagai azas dalam pelaksanaannya. Adapun landasan tersebut yaitu : landasan filosofis, yuridis, pedagogis dan empiris.
Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusi di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi, yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman, 2003). Filsafat ini sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia, baik kebhinekaan vertikal maupun horizontal, yang mengemban misi tunggal sebagai umat Tuhan di bumi. Kebhinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan kecerdasan, kekuatan fisik, kemampuan finansial, kepangkatan, kemampuan pengendalian diri dan sebagainya. Sedangkan kebhinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah, afiliasi, politik dan sebagainya. Bertolak dari filosofi Bhinneka Tunggal Ika, kecacatan dan keberbakatan hanyalah satu bentuk kebhinekaan seperti halnya perbedaan suku, ras, bahasa budaya atau agama. Kecacatan dan keberbakatan tidak memisahkan peserta didik satu dengan lainnya, seperti halnya perbedan suku, bahasa, budaya atau agama. Hal ini harus diwujudkan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragaam, sehingga mendororng sikap silih asah, silih asih dansilih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citakan dalam kehidupan sehari-hari.
Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusi adalah Deklarasi Salamanca (UNESCO, 1994) oleh para menteri pendidikan sedunia. Deklarasi ini adalah penegasan kembali atas deklarasi lanjutan yang berujung pada Peraturan Standar PBB tahun 1993 tentang kesempatan yang sama bagi individu penyandang cacat memperoleh pendidikan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan yang ada. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Di Indonesia, penefrapan pendidikan inklusi dijamin oleh UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik penyandang cacat atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus.
Sementara untuk Indonesia, secara yuridis pendidikan inklusif dilaksanakan berdasarkan atas:
1)      UUD 1945
2)      UU Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat
3)      UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
4)      UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
5)      UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
6)      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
7)      Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif: Menyelenggarakan dan mengembangkan di setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4 (empat) sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA, dan SMK.
8)      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
9)      Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, khusus untuk DKI Jakarta.
Landasan  pedagogis, seperti yang dijelaskan pada pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jadi, melalui pendidikan, peserta didik penyandang cacat dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah luar biasa. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya.
Landasan empiris ditunjukkan melalui penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan negara-negara barat sejak tahun 1980-an, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh The National Academy Of Sciences (Amerika Serikat). Hasilnya, menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak penyandang cacat di sekolah, kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat (Heller, Holtzman dan Messick, 1982). Beberapa pakarbahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat, karena karakteristik mereka yang sangat heterogen (Baker, Wang dan Walberg, 1994 - 1995).

Beberapa peneliti kemudian melakukan meta analisis (analisis lanjut)atas hasil banyak penelitian sejenis. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian, Wang dan Baker (1985 - 1986) terhadap 11 buah penelitian dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusi berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak penyandang cacat dan teman sebayanya.

Struktur Kepribadian Manusia

STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA
            Manusia memiliki rasa keingintahuan tentang dirinya sendiri. Keingintahuan tersebut berkisar antara apa yang dirasakan, perilaku yang muncul, ataupun pemikiran. Sejak dahulu, banyak sekali teori dan penelitian yang menyingkap tabir mengenai kejelasan perilaku manusia, sebut saja Sigmund Freud yang bisa disebut sebagai “bapak psikologi”, dimana dia meneliti manusia dengan pendekatan psikoanalisis. Freud menganalisi sistem kepribadian manusia, dimana kepribadian adalah keseluruhan cara manusia bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain (Robbin dkk, 2008) dan kepribadian tersebut dapat dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
            Ada 4 teori kepribadian yang masing-masing berasal dari pakar psikologi berbeda, yaitu:
1.      Teori kepribadian psikoanalisis
Teori ini dibangun oleh Sigmund Freud didasarkan pada keyakinan bahwa masalah-masalah psikologis adalah akibat dari adanya konflik psikologis di luar alam sadar yang dapat dilacak pada masa kecil (Nevid; Rathus; Green, 2003). Freud meyakini bahwa banyak perilaku manusia yang terjadi karena konflik diluar alam sadar dan konflik yang tidak disadari.
            Freud menambahkan tentang struktur pikiran dimana pikiran manusia adalah gunung es, hanya puncak dari gunung es yang terlihat di permukaan. Sehingga disimpulkan bahwa manusia hanya memperlihatkan dirinya pada taraf permukaannya saja, tetapi isi dari diri harus diteliti lebih dalam. Isi dari pikiran manusia yang beruapa ketakutan, kecemasan, harapan, dan dorongan tetap berada dibawah permukaan kesadaran sehingga tidak dapat dilihat secara kasat mata.
            Struktur kepribadian manusia menurut Freud terdiri dari id, ego, dan super ego. Id adalah struktur psikis yang muncul sejak lahir. Struktur ini merupakan penyimpanan dorongan dan impuls instingstif dasar, mencakup rasa lapar, haus, seks, dan agresi (Navid; Rathus; Green, 2003). Selama tahun pertama dalam kehidupan manusia, seorang anak mempunyai id yang tidak dapat secara segera dipuaskan dan dia harus menunggu agar id-nya terpuaskan. Contohnya jika seorang anak haus, dia masih harus menunggu minuman/ susu dipersiapkan untuknya.
            Tahap selanjutnya ego mulai berkembang, dimana id dapat dikontrol karena terjadi proses menyesuaikan diri dengan keadaan dilingkungan. Contohnya, dalam tahap perkembangan seorang anak, saat dia merasa haus maka anak sudah bisa memenuhinya sendiri dengan mengambil gelas dan meraih teko lalu menuangkan air didalam gelas, setelah itu id-nya terpenuhi. Ego diatur oleh prinsip realitas, dimana hal ini berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin dilakukan. Ego melibatkan proses mengingat, menimbang, merencanakan situasi yang mungkin dapat dilakukan saat id muncul.
            Super ego muncul pada tahap selanjutnya, dimana standar moral dan nilai-nilai dari orangtua maupun orang disekitar anak diinternalisasi melalui proses identifikasi. Super ego mempertimbangkan standar moral, etika, norma, dan agama. Pertimbangan tersebut berfungsi sebagai penjaga dan mengawasi ego dari tindakan benar dan salah.
Tahapan perkembangan psikoseksual Freud merupakan pakar psikologi yang mencetuskan bahwa dorongan-dorongan seksual merupakan faktor dominan dalam perkembangan kepribadian yang dimulai pada tahap perkembangan anak-anak. Freud meyakini bahwa hubungan dasar anak dengan lingkungannya ditahun pertama kehidupan terletak pada pencarian kepuasan sensualitas dan seksualitas (Feist, 2006). Semua aktivitas yang menimbulkan kepuasan secara fisik seperti makan, menggerakkan anus, pada intinya adalah aktivitas “seksual”. Pandangan Freud ini disebut dengan eros, yang merupakan dorongan dasar untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. Eros yang memungkinkan untuk memenuhi fungsinya disebut dengan libido atau energi seksual. Freud menyatakan bahwa ada lima tahapan psikoseksual, yaitu oral, anal, phallic, laten, dan genital.
a.       Tahap oral
Pada tahun pertama kehidupan, seorang bayi memperoleh kepuasan seksual dengan mengisap payudara ibunya untuk mendapatkan ASI. Setelah itu bayi memasukkan benda apa saja kedalam mulutnya. Keadaan ini menurut Freud adalah stimulasi oral dalam bentuk mengisap dan menggigit dimasukkan dalam kepuasan seksual maupun makanan.
b.      Tahap anal
Setelah tahap oral, seorang anak memasuki tahap dimana dia mengalami pemenuhan kepuasan seksual melalui konstraksi dan relaksasi otot-otot penggerak yang mengendalikan kotoran dari tubuh. Pada awalnya anak belum dapat mengendalikan pemenuhan keinginan untuk membuang kotoran, tetapi dengan toilet training akhirnya mereka dapat belajar bagaimana menahan dan menunda kebutuhan tersebut.
c. Tahap phallic
Tahap ini berpusat pada penis dan klitoris, dimana anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki rangsangan yang datang dari alat seksual, biasanya dengan cara menggesekkan atau memegang.
c.       Tahap laten
Pada tahap ini, kepuasan seksual tahap phallic terlupakan karena anak-anak disibukkan dengan bermain dan bersekolah.
d.      Tahap genital
Dimulai pada masa pubertas, dimana fungsi-fungsi seksual sudah matang dan akhirnya siap untuk menikah.
2.      Teori kepribadian behaviorisme
Perspektif ini fokus pada peran belajar dalam menjelaskan perilaku manusia. Beda dengan psikoanalisis yang menyatakan tentang ketidaksadaran, perspektif ini menyatakan bahwa kepribadian dapat diamati karena termanifestasi pada perilaku. Contoh paling mudah dapat kita pelajari dari kehidupan sehari-hari, apabila seorang anak biasa diberi hukuman oleh orang tuanya tanpa ada kejelasan kesalahan, maka seorang anak belajar bahwa apapun yang dilakukan adalah salah dan pasti mendapat hukuman. Teori ini meyakini bahwa perilaku manusia merupakan bawaan genetis dan pengaruh lingkungan.
            Psikolog Rusia bernama Ivan Pavlov membuat sebuah eksperimen yang mendasari teori behaviorisme. Pavlov menggunakan anjing untuk mempelajari respon air liur anjing pada makanan, dan Pavlov berkesimpulan bahwa air liur anjing dapat keluar bahkan sebelum anjing melihat makanan. Dalam eksperimennya Pavlov membawa makanan anjing sambil membunyikan bel, pada saat anjing melihat makanan air liurnya menetes. Setelah dilakukan terus menerus, Pavlov mencoba membunyikan bel tanpa membawa makanan, ternyata air liur anjing tetap menetes. Teori ini dinamkan dengan respon terkondisi (conditional response), dimana peristiwa terjadi karena sudah dikondisikan.
            Sedangkan BF. Skinner mempunyai teori operant conditioning, dimana Skinner menguji cobakan teorinya menggunakan burung merpati. Skinner membuat kotak yang didalamnya diletakkan butiran-butiran jagung dan sebuah tombol bel. Saat burung dimasukkan, maka dia akan mematuk jagung dan memakannya. Pada saat makanan habis burung tetap mencoba mematuk-matuk yang akhirnya tidak sengaja menekan tombol bel. Setelah bel berbunyi dimasukkan kembali butiran-butiran jagung ke dalam kotak. Akhirnya, burung belajar bahwa jika menekan tombol bel maka makanan akan datang.
            Pada operant conditioning, makhluk hidup membentuk sebuah respon yang menguatkan (reinforcement) atau dapat dikatakan bahwa suatu tindakan dapat memunculkan tindakan lain. Tindakan lain dapat menyenangkan atau tidak menyenangkan, istilahnya mendapatkan hadiah (reward) atau hukuman (punishment). Jika mendapatkan hadiah, maka respon akan terus dikuatkan, sedangkan jika mendapat hukuman maka respon akan dikurangi bahkan dihilangkan (Slamet; Markam, 2003)
            Pendekatan behaviorisme lainnya diungkapkan oleh Albert Bandura dengan teori sosial-kognitif. Teori sosial-kognitif menekankan peran proses berpikir (kognisi) dari mengamati atau menirukan (modeling) perilaku orang lain. Bandura memandang bahwa manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. Contohnya adalah bagaimana seorang anak dapat berbicara dengan menirukan bunyi yang keluar dari bibir orang tuanya. Contoh lainnya adalah seseorang akan berperilaku sama dengan apa yang diajarkan oleh lingkungannya.
3.      Teori kepribadian humanistic
Teori ini berpendapat bahwa manusia adalah aktor dalam kehidupan, bukan reaktor. Carl Rogers sebagai tokoh psikologi humanistik berpendapat bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan melakukan aktualisasi diri yaitu berjuang menjadi apa yang mereka mampu. Manusia akan berpikir dan mencari mana hal yang terbaik bagi dirinya berupaya jujur pada diri sendiri, tidak sekedar mengikuti lingkungan atau termanipulasi oleh keadaan.
            Tetapi sayangnya, tidak semua manusia mampu melakukan aktualisasi diri dengan baik. Hal tersebut dianggap Rogers karena manusia gagal melakukan evaluasi diri. Rogers meyakini bahwa orang tua dapat membantu seorang anak mengembangkan kepercayaan diri yang akhirnya menjadikannya mampu mengaktualkan diri dengan baik
4.      Teori kepribadian kognitif
Kognitif berasal dari bahasa latin cognito yang artinya pengetahuan. Albert Ellis dan Aaron Back merupakan dua teoritikus kognitif yang mempelajari bahwa kognisi –pikiran, keyakinan, harapan, dan sikap- adalah hal yang nantinya mendasari perilaku manusia. Mereka menyatakan bahwa kognisi merupakan setir bagi perilaku yang diperlihatkan oleh manusia dan sekaligus menentukan keadaan emosi. Contoh saja, jika seseorang beranggapan buruk atau negatif terhadap peristiwa yang dialami maka wajar jika orang tersebut dilanda depresi, kecemasan, dan ketakutan.
Daftar pustaka

Feist J. (2006). Theories of Personality 6th ed. McGraw-Hill International Edition: Singapore
Nevid, J; Rathus, S; Greene, B. (2003). Abnormal Psychology. Prentice Hall: New York
Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 1. Salemba Empat: Jakarta
Slamet, S; Markam, S. (2003) Pengantar Psikologi Klinis. Universitas Indonesia Press: Jakarta

Sabtu, 03 Januari 2015

Hubungan TIK dengan Komputer

Untuk Mendownload Materi ini Klik Disini

Komponen Hardware dan Software dalam TIK

Untuk Mendownload Materi Klik Disini

Sejarah Komputer

Untuk Mendownload Materi ini Klik Disini