STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA
Manusia
memiliki rasa keingintahuan tentang dirinya sendiri. Keingintahuan tersebut
berkisar antara apa yang dirasakan, perilaku yang muncul, ataupun pemikiran.
Sejak dahulu, banyak sekali teori dan penelitian yang menyingkap tabir mengenai
kejelasan perilaku manusia, sebut saja Sigmund Freud yang bisa disebut sebagai
“bapak psikologi”, dimana dia meneliti manusia dengan pendekatan psikoanalisis.
Freud menganalisi sistem kepribadian manusia, dimana kepribadian adalah
keseluruhan cara manusia bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain (Robbin
dkk, 2008) dan kepribadian tersebut dapat dideskripsikan dalam istilah sifat
yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
Ada
4 teori kepribadian yang masing-masing berasal dari pakar psikologi berbeda,
yaitu:
1. Teori kepribadian psikoanalisis
Teori ini dibangun oleh Sigmund Freud didasarkan pada
keyakinan bahwa masalah-masalah psikologis adalah akibat dari adanya konflik
psikologis di luar alam sadar yang dapat dilacak pada masa kecil (Nevid;
Rathus; Green, 2003). Freud meyakini bahwa banyak perilaku manusia yang terjadi
karena konflik diluar alam sadar dan konflik yang tidak disadari.
Freud
menambahkan tentang struktur pikiran dimana pikiran manusia adalah gunung es,
hanya puncak dari gunung es yang terlihat di permukaan. Sehingga disimpulkan
bahwa manusia hanya memperlihatkan dirinya pada taraf permukaannya saja, tetapi
isi dari diri harus diteliti lebih dalam. Isi dari pikiran manusia yang beruapa
ketakutan, kecemasan, harapan, dan dorongan tetap berada dibawah permukaan
kesadaran sehingga tidak dapat dilihat secara kasat mata.
Struktur
kepribadian manusia menurut Freud terdiri dari id, ego, dan super ego. Id
adalah struktur psikis yang muncul sejak lahir. Struktur ini merupakan
penyimpanan dorongan dan impuls instingstif dasar, mencakup rasa lapar, haus,
seks, dan agresi (Navid; Rathus; Green, 2003). Selama tahun pertama dalam kehidupan
manusia, seorang anak mempunyai id yang tidak dapat secara segera dipuaskan dan
dia harus menunggu agar id-nya terpuaskan. Contohnya jika seorang anak haus,
dia masih harus menunggu minuman/ susu dipersiapkan untuknya.
Tahap selanjutnya ego mulai berkembang, dimana id dapat dikontrol karena terjadi proses menyesuaikan diri dengan keadaan dilingkungan. Contohnya, dalam tahap perkembangan seorang anak, saat dia merasa haus maka anak sudah bisa memenuhinya sendiri dengan mengambil gelas dan meraih teko lalu menuangkan air didalam gelas, setelah itu id-nya terpenuhi. Ego diatur oleh prinsip realitas, dimana hal ini berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin dilakukan. Ego melibatkan proses mengingat, menimbang, merencanakan situasi yang mungkin dapat dilakukan saat id muncul.
Tahap selanjutnya ego mulai berkembang, dimana id dapat dikontrol karena terjadi proses menyesuaikan diri dengan keadaan dilingkungan. Contohnya, dalam tahap perkembangan seorang anak, saat dia merasa haus maka anak sudah bisa memenuhinya sendiri dengan mengambil gelas dan meraih teko lalu menuangkan air didalam gelas, setelah itu id-nya terpenuhi. Ego diatur oleh prinsip realitas, dimana hal ini berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin dilakukan. Ego melibatkan proses mengingat, menimbang, merencanakan situasi yang mungkin dapat dilakukan saat id muncul.
Super
ego muncul pada tahap selanjutnya, dimana standar moral dan nilai-nilai dari
orangtua maupun orang disekitar anak diinternalisasi melalui proses
identifikasi. Super ego mempertimbangkan standar moral, etika, norma, dan
agama. Pertimbangan tersebut berfungsi sebagai penjaga dan mengawasi ego dari
tindakan benar dan salah.
Tahapan perkembangan psikoseksual Freud merupakan pakar
psikologi yang mencetuskan bahwa dorongan-dorongan seksual merupakan faktor
dominan dalam perkembangan kepribadian yang dimulai pada tahap perkembangan
anak-anak. Freud meyakini bahwa hubungan dasar anak dengan lingkungannya
ditahun pertama kehidupan terletak pada pencarian kepuasan sensualitas dan
seksualitas (Feist, 2006). Semua aktivitas yang menimbulkan kepuasan secara
fisik seperti makan, menggerakkan anus, pada intinya adalah aktivitas
“seksual”. Pandangan Freud ini disebut dengan eros, yang merupakan dorongan
dasar untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. Eros yang memungkinkan
untuk memenuhi fungsinya disebut dengan libido atau energi seksual. Freud
menyatakan bahwa ada lima tahapan psikoseksual, yaitu oral, anal, phallic,
laten, dan genital.
a. Tahap oral
Pada tahun pertama kehidupan, seorang bayi memperoleh
kepuasan seksual dengan mengisap payudara ibunya untuk mendapatkan ASI. Setelah
itu bayi memasukkan benda apa saja kedalam mulutnya. Keadaan ini menurut Freud
adalah stimulasi oral dalam bentuk mengisap dan menggigit dimasukkan dalam
kepuasan seksual maupun makanan.
b. Tahap anal
Setelah tahap oral, seorang anak memasuki tahap dimana dia
mengalami pemenuhan kepuasan seksual melalui konstraksi dan relaksasi otot-otot
penggerak yang mengendalikan kotoran dari tubuh. Pada awalnya anak belum dapat
mengendalikan pemenuhan keinginan untuk membuang kotoran, tetapi dengan toilet
training akhirnya mereka dapat belajar bagaimana menahan dan menunda kebutuhan
tersebut.
c. Tahap phallic
Tahap ini berpusat pada penis dan klitoris, dimana anak
mulai menyadari bahwa mereka memiliki rangsangan yang datang dari alat seksual,
biasanya dengan cara menggesekkan atau memegang.
c. Tahap laten
Pada tahap ini, kepuasan seksual tahap phallic terlupakan
karena anak-anak disibukkan dengan bermain dan bersekolah.
d. Tahap genital
Dimulai pada masa pubertas, dimana fungsi-fungsi seksual
sudah matang dan akhirnya siap untuk menikah.
2. Teori kepribadian behaviorisme
Perspektif ini fokus pada peran belajar dalam menjelaskan
perilaku manusia. Beda dengan psikoanalisis yang menyatakan tentang
ketidaksadaran, perspektif ini menyatakan bahwa kepribadian dapat diamati
karena termanifestasi pada perilaku. Contoh paling mudah dapat kita pelajari
dari kehidupan sehari-hari, apabila seorang anak biasa diberi hukuman oleh
orang tuanya tanpa ada kejelasan kesalahan, maka seorang anak belajar bahwa
apapun yang dilakukan adalah salah dan pasti mendapat hukuman. Teori ini
meyakini bahwa perilaku manusia merupakan bawaan genetis dan pengaruh
lingkungan.
Psikolog
Rusia bernama Ivan Pavlov membuat sebuah eksperimen yang mendasari teori behaviorisme.
Pavlov menggunakan anjing untuk mempelajari respon air liur anjing pada
makanan, dan Pavlov berkesimpulan bahwa air liur anjing dapat keluar bahkan
sebelum anjing melihat makanan. Dalam eksperimennya Pavlov membawa makanan
anjing sambil membunyikan bel, pada saat anjing melihat makanan air liurnya
menetes. Setelah dilakukan terus menerus, Pavlov mencoba membunyikan bel tanpa
membawa makanan, ternyata air liur anjing tetap menetes. Teori ini dinamkan
dengan respon terkondisi (conditional response), dimana peristiwa terjadi
karena sudah dikondisikan.
Sedangkan
BF. Skinner mempunyai teori operant conditioning, dimana Skinner menguji
cobakan teorinya menggunakan burung merpati. Skinner membuat kotak yang
didalamnya diletakkan butiran-butiran jagung dan sebuah tombol bel. Saat burung
dimasukkan, maka dia akan mematuk jagung dan memakannya. Pada saat makanan
habis burung tetap mencoba mematuk-matuk yang akhirnya tidak sengaja menekan
tombol bel. Setelah bel berbunyi dimasukkan kembali butiran-butiran jagung ke
dalam kotak. Akhirnya, burung belajar bahwa jika menekan tombol bel maka
makanan akan datang.
Pada
operant conditioning, makhluk hidup membentuk sebuah respon yang menguatkan
(reinforcement) atau dapat dikatakan bahwa suatu tindakan dapat memunculkan
tindakan lain. Tindakan lain dapat menyenangkan atau tidak menyenangkan,
istilahnya mendapatkan hadiah (reward) atau hukuman (punishment). Jika
mendapatkan hadiah, maka respon akan terus dikuatkan, sedangkan jika mendapat
hukuman maka respon akan dikurangi bahkan dihilangkan (Slamet; Markam, 2003)
Pendekatan
behaviorisme lainnya diungkapkan oleh Albert Bandura dengan teori
sosial-kognitif. Teori sosial-kognitif menekankan peran proses berpikir
(kognisi) dari mengamati atau menirukan (modeling) perilaku orang lain. Bandura
memandang bahwa manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. Contohnya adalah
bagaimana seorang anak dapat berbicara dengan menirukan bunyi yang keluar dari
bibir orang tuanya. Contoh lainnya adalah seseorang akan berperilaku sama
dengan apa yang diajarkan oleh lingkungannya.
3. Teori kepribadian humanistic
Teori ini berpendapat bahwa manusia adalah aktor dalam
kehidupan, bukan reaktor. Carl Rogers sebagai tokoh psikologi humanistik
berpendapat bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan melakukan aktualisasi
diri yaitu berjuang menjadi apa yang mereka mampu. Manusia akan berpikir dan
mencari mana hal yang terbaik bagi dirinya berupaya jujur pada diri sendiri,
tidak sekedar mengikuti lingkungan atau termanipulasi oleh keadaan.
Tetapi
sayangnya, tidak semua manusia mampu melakukan aktualisasi diri dengan baik.
Hal tersebut dianggap Rogers karena manusia gagal melakukan evaluasi diri.
Rogers meyakini bahwa orang tua dapat membantu seorang anak mengembangkan
kepercayaan diri yang akhirnya menjadikannya mampu mengaktualkan diri dengan
baik
4. Teori kepribadian kognitif
Kognitif berasal dari bahasa latin cognito yang artinya
pengetahuan. Albert Ellis dan Aaron Back merupakan dua teoritikus kognitif yang
mempelajari bahwa kognisi –pikiran, keyakinan, harapan, dan sikap- adalah hal
yang nantinya mendasari perilaku manusia. Mereka menyatakan bahwa kognisi
merupakan setir bagi perilaku yang diperlihatkan oleh manusia dan sekaligus
menentukan keadaan emosi. Contoh saja, jika seseorang beranggapan buruk atau
negatif terhadap peristiwa yang dialami maka wajar jika orang tersebut dilanda
depresi, kecemasan, dan ketakutan.
Daftar
pustaka
Feist J. (2006). Theories of Personality 6th ed. McGraw-Hill International Edition: Singapore
Nevid,
J; Rathus, S; Greene, B. (2003). Abnormal Psychology. Prentice Hall: New York
Robbins,
Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 1. Salemba
Empat: Jakarta
Slamet,
S; Markam, S. (2003) Pengantar Psikologi Klinis. Universitas Indonesia Press:
Jakarta






0 komentar:
Posting Komentar
Masukkan Komentar dengan kata yang sopan