Kedudukan Dan Tujuan Tes Dalam Konseling
A.
Kedudukan
Tes Dalam Konseling
Tes dalam konseling menekankan itu perlu
karena melalui tes diperoleh berbagai informasi yang dapat membantu klien untuk
mengambil keputusan secara lebih realistis. Jenis-jenis tes yang dapat
digunakan untuk tujuan konseling meliputi tes inteligensi umum, bakat, minat,
hasil belajar dan beberapa inventori kepribadian. Kegunaan tes dalam konseling
terutama dapat dilihat bahwa hasil tes mampu menyediakan tentang traits
individu sebagai bahan tabahan yang dapat dijadikan sumber pengambilan
keputusannya.
Namun demikian ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan tes dalam konseling yaitu:
1. Klien
hendaknya terlibat dalam proses pemilihan tes, dimana mereka seharusnya
diberikan kesempatan untuk menentukan jenis-jenis tes yang mereka inginkan.
2. Perlunya
konselor mengeksplorasi alasan klien menginginkan tes dan pengalaman masa lalu
klien dengan tes.
3. Perlunya
klin memperoleh insight bahwa tes hanyalah alat yang tidak sempurna, dalam arti
tes bukanlah jawaban terbaik atas persoalan melainkan hanya informasi tambahan.
4. Konselor
seharusnya menjelaskan tujuan tes dan menunjukkan keterbatasannya.
5. Hasil
tes yang dikomunikasikan kepada klien tidak sekedar skor tetapi makna dibalik
skor itu harus dieksplorasi dan ditafsirkan sementara konselor harusnya menahan
diri dalam member penilaian dan membiarkan klien mengambil simpulan atas makna
hasil tesnya.
B.
Tujuan
Penggunaan Tes dalam Konseling
Secara umum penggunaan tes dapat digolongkan
ke dalam dua klasifikasi besar yaitu untuk tujuan bukan untuk konseling dan
tujuan untuk konseling.
Yang termasuk ke dalam tujuan bukan untuk
konseling adalah:
1. Seleksi
calon masuk lembaga
2. Penempatan
individu dalam lembaga
3. Adaptasi
latihan lembaga untuk memenuhi kebutuhan dan ciri-ciri individu tertentu
4. Pengembangan
dan revisi latihan lembaga untuk memenuhi kebutuhan cirri-ciri siswa atau
pekerja pada umumnya.
Sedangkan penggunaan tes dalam konseling
yang termasuk bukan informasi ada beberapa hal:
1. Merangsang
minat terhadap bidang-bidang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan
Hasil pengukuran atribut kepribadian
individu melalui tes memiliki kontribusi dalam membangkitkan siswa terhadap
bidang-bidang pendidikan dan vokasional. Semula para siswa kurang menyadari
namun setelah merek memperoleh gambaran berupa profil minat-minat dan bakatnya
yang tak diketahui sebelumnya dan ternyata cukup menonjol, para siswa bisa
termotivasi dan berminat mengembangkan kea rah bidang-bidang yang sebelumnya
tidak masuk dalam pertimbangan.
2. Meletakkan
landasan kerja bagi konseling berikutnya
Dalam melaksanakan pelayanannya, konselor
sekolah sering melakukan kegiatan wawancara yang di dalamnya berisi pembahasan
tentang karier dan masa depan. Dengan menfokuskan kepada pengembangan konsep
diri, pembahasan tentang minat, bakat, dan sifat-sifat kepribadian dapat
dikaikan dengan penyesuaian terhadap pendidikan dan karier di masa depan. Hal
itu akan semakin menarik dan menjadikan siswa terlibat dengan penggunaan tes
psikologis. Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan besar mereka merasakan
kebutuhan konseling.
3. Belajar
pengalaman dalam pengambilan keputusan.
Penggunaan tes lebih besar penekanannya
untuk keperluan belajar dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan
berlangsung efektif apabila didukung oleh tersedianya bahan informasi. Tes
memungknkan tersedianya berbagai informasi tentang atribut kepribadian seperti:
intelegensi umum, bakat, minat yang kevalidannya tidak diragukan.
4. Mempermudah
berlangsungnya pembicaraan
Sebagian klien mengalami kesulitan untuk
mulai bicara, terutama apabila mereka tercekam oleh perasaan-perasaan atau
pikiran-pikiran yang lama tertekan. Untuk itu disarankan untuk menggunakan
tes-tes semacam melengkapi kalimat atau thematic Apperception test. Respon atau
tanggapan klien terhadap rangsangan tes dapat digunakan oleh konselor sebagai
titik awal guna mempermudah komunikasi dalam wawancara.
5. Kepentingan
riset dalam konseling
Meskipun riset dalam arti langsung bukan
merupakan fungsi konseling, riset dapat merupakan tanggung jawab konselor dan
riset kaitan dengan layanan yang ia berikan. Sebagai contoh, dalam evaluasi
konseling pendekatan riset banyak dipakai dan sudah tentu sebagai alat ukur,
tes banyak digunakan.
Sedangakan penggunaan tes dalam konseling
yang termasuk untuk tujuan informasi meliputi:
a. Informasi
diagnostic prakonseling
Penggunaan tes dalam tujuan ini adalah dalam
kaitan upaya konselor memperoleh informasi berupa traits atau atribusi
kepribadian klien yang dapat dijadikan bahan diagnosis (perkiraan penyebab)
masalah klien. Dengan adanya hasil tes berupa skor bakat, minat atau
karakteristik kepribadian, konselor mampu menduga tentang kemungkinan faktor
penyebab kesulitan kliennya.
b. Informasi
untuk mengarahkan proses konseling berikutnya
Hasil tes dapat dijadikan dasar pembinaan
konselor terhadap kliennya. Hasil-hasil yang memperlihatkan keunggulan diri
klien dapat dijadikan penguatan yang pada gilirannya akan membentuk konsep diri
positif. Sedangkan hasil tes yang memperlihatkan kelemahan klien dijadikan dasar
sebagai bahan instropeksi klien. Dengan demikian informasi hasil tes dapat
digunakan untuk mengarahkan proses konseling untuk maksud pengembangan diri
klien.
c. Informasi
berkaitan dengan keputusan klien pasca konsling
Ciri umum konseling selalu berkaitan dengan
keputusan dan keputusan hakikatnya adalah seperangkat perencanaan. Dalam proses
konseling tidak hanya melihatkan aspek rasional kognitif saja melainkan juga
perasaan klien yang akan mengambil keputusan. Tujuan konseling lazimnya
membantu membuat keputusan dan rencana masa depan serta memilih diantara
alternative cara bertindak dalam realitas. Dalam hal ini tes berfungsi membantu
dalam proses merencanakan dan memilih dengan member klien informasi tambahan
mengenai diri klien dalam hubungan dengan mengenai pendidikan atau jabatan.
Ada
tiga dimensi keputusan pasca konseling, yakni: 1. Tingkat afeksi yang melekat
pada proses memperoleh informasi itu berbeda-beda di antara individu yang
mencari informasi, 2. Tingkat kedangkalan dari kebutuhan informasi yang
dinyatakan klien, 3. Tingkat realitisnya alternative yang dipertimbangkan dan
permintaan informasi. Dengan mempertimbangkan kerja dimensi ini maka sangat
dituntut keterandalan kompetensi konselor untuk mengintegrasikan hasil tes ke
dalam pendekatan konseling.






0 komentar:
Posting Komentar
Masukkan Komentar dengan kata yang sopan