Minggu, 04 Januari 2015

Kedudukan dan Tujuan Tes Dalam Konseling

Kedudukan Dan Tujuan Tes Dalam Konseling
A.    Kedudukan Tes Dalam Konseling
   Tes dalam konseling menekankan itu perlu karena melalui tes diperoleh berbagai informasi yang dapat membantu klien untuk mengambil keputusan secara lebih realistis. Jenis-jenis tes yang dapat digunakan untuk tujuan konseling meliputi tes inteligensi umum, bakat, minat, hasil belajar dan beberapa inventori kepribadian. Kegunaan tes dalam konseling terutama dapat dilihat bahwa hasil tes mampu menyediakan tentang traits individu sebagai bahan tabahan yang dapat dijadikan sumber pengambilan keputusannya.
   Namun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan tes dalam konseling yaitu:
1.      Klien hendaknya terlibat dalam proses pemilihan tes, dimana mereka seharusnya diberikan kesempatan untuk menentukan jenis-jenis tes yang mereka inginkan.
2.      Perlunya konselor mengeksplorasi alasan klien menginginkan tes dan pengalaman masa lalu klien dengan tes.
3.      Perlunya klin memperoleh insight bahwa tes hanyalah alat yang tidak sempurna, dalam arti tes bukanlah jawaban terbaik atas persoalan melainkan hanya informasi tambahan.
4.      Konselor seharusnya menjelaskan tujuan tes dan menunjukkan keterbatasannya.
5.      Hasil tes yang dikomunikasikan kepada klien tidak sekedar skor tetapi makna dibalik skor itu harus dieksplorasi dan ditafsirkan sementara konselor harusnya menahan diri dalam member penilaian dan membiarkan klien mengambil simpulan atas makna hasil tesnya.

B.     Tujuan Penggunaan Tes dalam Konseling
    Secara umum penggunaan tes dapat digolongkan ke dalam dua klasifikasi besar yaitu untuk tujuan bukan untuk konseling dan tujuan untuk konseling.
    Yang termasuk ke dalam tujuan bukan untuk konseling adalah:
1.      Seleksi calon masuk lembaga
2.      Penempatan individu dalam lembaga
3.      Adaptasi latihan lembaga untuk memenuhi kebutuhan dan ciri-ciri individu tertentu
4.      Pengembangan dan revisi latihan lembaga untuk memenuhi kebutuhan cirri-ciri siswa atau pekerja pada umumnya.
Sedangkan penggunaan tes dalam konseling yang termasuk bukan informasi ada beberapa hal:
1.      Merangsang minat terhadap bidang-bidang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan
    Hasil pengukuran atribut kepribadian individu melalui tes memiliki kontribusi dalam membangkitkan siswa terhadap bidang-bidang pendidikan dan vokasional. Semula para siswa kurang menyadari namun setelah merek memperoleh gambaran berupa profil minat-minat dan bakatnya yang tak diketahui sebelumnya dan ternyata cukup menonjol, para siswa bisa termotivasi dan berminat mengembangkan kea rah bidang-bidang yang sebelumnya tidak masuk dalam pertimbangan.
2.      Meletakkan landasan kerja bagi konseling berikutnya
   Dalam melaksanakan pelayanannya, konselor sekolah sering melakukan kegiatan wawancara yang di dalamnya berisi pembahasan tentang karier dan masa depan. Dengan menfokuskan kepada pengembangan konsep diri, pembahasan tentang minat, bakat, dan sifat-sifat kepribadian dapat dikaikan dengan penyesuaian terhadap pendidikan dan karier di masa depan. Hal itu akan semakin menarik dan menjadikan siswa terlibat dengan penggunaan tes psikologis. Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan besar mereka merasakan kebutuhan konseling.
3.      Belajar pengalaman dalam pengambilan keputusan.
   Penggunaan tes lebih besar penekanannya untuk keperluan belajar dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan berlangsung efektif apabila didukung oleh tersedianya bahan informasi. Tes memungknkan tersedianya berbagai informasi tentang atribut kepribadian seperti: intelegensi umum, bakat, minat yang kevalidannya tidak diragukan.
4.      Mempermudah berlangsungnya pembicaraan
   Sebagian klien mengalami kesulitan untuk mulai bicara, terutama apabila mereka tercekam oleh perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran yang lama tertekan. Untuk itu disarankan untuk menggunakan tes-tes semacam melengkapi kalimat atau thematic Apperception test. Respon atau tanggapan klien terhadap rangsangan tes dapat digunakan oleh konselor sebagai titik awal guna mempermudah komunikasi dalam wawancara.
5.      Kepentingan riset dalam konseling
    Meskipun riset dalam arti langsung bukan merupakan fungsi konseling, riset dapat merupakan tanggung jawab konselor dan riset kaitan dengan layanan yang ia berikan. Sebagai contoh, dalam evaluasi konseling pendekatan riset banyak dipakai dan sudah tentu sebagai alat ukur, tes banyak digunakan.
   Sedangakan penggunaan tes dalam konseling yang termasuk untuk tujuan informasi meliputi:
a.       Informasi diagnostic prakonseling
   Penggunaan tes dalam tujuan ini adalah dalam kaitan upaya konselor memperoleh informasi berupa traits atau atribusi kepribadian klien yang dapat dijadikan bahan diagnosis (perkiraan penyebab) masalah klien. Dengan adanya hasil tes berupa skor bakat, minat atau karakteristik kepribadian, konselor mampu menduga tentang kemungkinan faktor penyebab kesulitan kliennya.
b.      Informasi untuk mengarahkan proses konseling berikutnya
   Hasil tes dapat dijadikan dasar pembinaan konselor terhadap kliennya. Hasil-hasil yang memperlihatkan keunggulan diri klien dapat dijadikan penguatan yang pada gilirannya akan membentuk konsep diri positif. Sedangkan hasil tes yang memperlihatkan kelemahan klien dijadikan dasar sebagai bahan instropeksi klien. Dengan demikian informasi hasil tes dapat digunakan untuk mengarahkan proses konseling untuk maksud pengembangan diri klien.
c.       Informasi berkaitan dengan keputusan klien pasca konsling
    Ciri umum konseling selalu berkaitan dengan keputusan dan keputusan hakikatnya adalah seperangkat perencanaan. Dalam proses konseling tidak hanya melihatkan aspek rasional kognitif saja melainkan juga perasaan klien yang akan mengambil keputusan. Tujuan konseling lazimnya membantu membuat keputusan dan rencana masa depan serta memilih diantara alternative cara bertindak dalam realitas. Dalam hal ini tes berfungsi membantu dalam proses merencanakan dan memilih dengan member klien informasi tambahan mengenai diri klien dalam hubungan dengan mengenai pendidikan atau jabatan.


Ada tiga dimensi keputusan pasca konseling, yakni: 1. Tingkat afeksi yang melekat pada proses memperoleh informasi itu berbeda-beda di antara individu yang mencari informasi, 2. Tingkat kedangkalan dari kebutuhan informasi yang dinyatakan klien, 3. Tingkat realitisnya alternative yang dipertimbangkan dan permintaan informasi. Dengan mempertimbangkan kerja dimensi ini maka sangat dituntut keterandalan kompetensi konselor untuk mengintegrasikan hasil tes ke dalam pendekatan konseling.

0 komentar:

Posting Komentar

Masukkan Komentar dengan kata yang sopan